Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Siasat Perang dalam Pewayangan

 Dalam kisah pewayangan di cerita Baratayuda ataupun kisah Ramayana terjadi banyak sekali pertarungan dan peperangan, pepereangan itu terjadi karena perebutan kekuasan dan masalah lainya. Di dalam peperangan tersebut para komandan perang dari negara pewayangan tersebut juga di bekali ilmu militer termasuk juga strategi atau siasat dalam peperangan.

Siasat Perang dalam Pewayangan


Ada beberapa Siasat perang dalam pewayangan di antaranya adalah sebagai berikut :

A. Siasat perang Jurang Grawah

 Siasat perang Jurang Grawah mirip dengan gedong minep, namun biasanya digunakan untuk melawan pasukan yang lebih banyak jumlahnya dengan cara memancing mereka kedalam pasukan, tetapi tidak dikurung (jurang=jurang, grawah= menganga), lawan dibiarkan masuk sebanyak banyaknya, namun begitu sampai ketengah pasukan langsung dibinasakan.

Siasat perang Jurang Grawah


Formasi ini hanya bisa dilaksanakan jika pasukan memiliki kelebihan kemampuan, baik perseorangan maupun dalam kelompok dibanding dengan pasukan lawan, atau dapat dikatakan ini adalah Siasat perangyang sering digunakan oleh pasukan khusus, walaupun kecil jumlahnya tapi berkemampuan tinggi.

B. Siasat perang Cakra Byuha

Siasat perang Cakra Byuha adalah formasi perang dengan pengepungan/countainment. (Cakra= cakram, senjata berbentuk bulat pipih bergerigi; Byuha = Siasat perangbarisan). Formasi ini dapat juga digunakan untuk masuk ke tengah-tengah medan pertempuran yang sudah terlebih dahulu terjadi . Lingkaran Siasat perang Cakra Byuha akan langsung masuk ke tengah-tengah peperangan, kemudian mengembang sebagai Siasat perang lingkaran yang semakin besar.

Siasat perang Cakra Byuha
Siasat perang Cakra Byuha


Siasat perang yang berbentuk lingkaran bergerigi, yang menempatkan para senapatinya di sepanjang ujung geriginya. Siasat perangitu akan dapat menghadap ke segala arah sesuai dengan keadaan yang berkembang di medan yang sengit, yang mengarah kepada perang brubuh.

Namun berbeda dengan Siasat perang Gedung Minep, yang juga merupakan lingkaran yang rapat, maka Siasat perang Cakra Byuha menempatkan senapati utamanya di depan, di luar lingkaran. Senapati Utamanya dapat bergeser menurut keadaan.

Siasat perang cakra byuha biasanya digunakan untuk melindungi raja, orang penting, tawanan atau pusaka,yang akan dibawa kesuatu tempat.orang/ barang yang dilindungi tsb diletakkan ditengah gelar, sementara pasukan melindungi berlapis lapis berbentuk bulat/melingkar. dengan ujung-ujung geriginya pasukan bergerak menghancurkan penghalang yang merintangi.


C. Siasat perang Wukir Jaladri

Siasat perang Wukir Jaladri adalah formasi pasukan yang bentuknya seperti gunung ditengah lautan (wukir = gunung, jaladri = lautan). Siasat perangini biasanya digunakan untuk bertahan dari gempuran musuh.

Bermakna Gunung di tengah laut. Kendaraan besar dan gajah akan ditempatkan di tengah sebagai gunung atau batu karang, dengan Panglima berkedudukan di tengah-tengahnya sbg pusat komando, sedangkan para Senopati dan prajurit melingkarinya sbg gelombang dan airnya.


D. Siasat Perang Supit Urang

Bayangkan bila seekor udang tengah mempertahankan diri atau menyerang dengan merentangkan sapitnya untuk mematikan lawan. Sang udang akan menggunakan sapitnya untuk menyerang musuh yang mendekatinya.

Siasat Perang Supit Urang
Siasat Perang Supit Urang


Contoh formasi siasat perang supit urang ini  digunakan oleh Pandawa beserta para senopatinya :

- Drustajumna : Ujung sepit kanan

- Gatotkaca : ujung sepit kiri

- Setyaki : mulut

- Prabu Darmaputra (bersama raja pembantu) : kepala

- Abimanyu : sungut


E. Siasat Perang Diradameta

Diradameta artinya gajah yang sedang marah. Siasat ini menggambarkan kemarahan seekor gajah. Kemarahan yang mengagumkan (sekaligus mengerikan), belalai dan gading gajah itu sangat membahayakan. Dan kekuatannya pun maha dahsyat.

Siasat Perang Diradameta ini digunakan Kurawa dalam perang Baratayudha, dimana Prabu Duryudana bertempat di tengkuk dengan Arja Sindurja (Jayadrata) dan Adipati Awangga, barisan Kurawa membentuk gading, sedangkan Prabu Bagadenta sebagai belalai gajah, dan Dahyang Durna berada di kepala gajah.

Bertempur antara Pandawa dan Kurawa dimisalkan seperti laut beradu gelombang, bergema hingga menjulang ke angkasa, dan menggelisahkan Suralaya, maka para Dewa di Suralaya menurunkan hujan bunga ke medan perang itu untuk penghiburan.

Dirada meta artinya gajah yang sedang marah. Imajinasikan bagaimana seekor gajah dengan tenaga yang luar biasa besarnya, sedang marah memainkan belalainya dan menyerundukan gadingnya yang keras dan tajam. Gajah menyerunduk maju terus tanpa kenal rasa takut dan sakit.

Siasat ini digunakan oleh Korawa dalam perang Baratayuda dengan formasi :

- Prabu Suyudana, Jayadrata, Karna : tengkuk

- Prabu Bagadenta : belalai

- Durna : Kepala

Pertempuran antara pandawa dan korawa begitu dahsyatnya hingga menyeruak hingga angkasa, hingga suralaya. Menggelisahkan para dewa. Namun perang terus berlangsung, perang akan berakhir setelah satu pihak jadi pecundang. Meskipun perang meninggalkan ribuan korban, banjir darah dan penuh jerit kesakitan dan kematian.


F. Siasat Perang Gilingan Rata

Siasat Perang ini sangat hebat, menyerupai roda kereta yang menggelinding dengan dahsyat sehingga apapun apapun yang tergiling akan hancur lebur. Perang dengan siasat ini harus mengerahkan tentara dengan jumlah besar dan harus mampu bergerak cepat, sebab tujuan siasat ini adalah menggempur kekuatan lawan dengan segera dan habis pada seketika itu juga.

Siasat ini memerlukan panglima perang yang ulung, hingga musuh yang ditampuhnya tak dapat melawan. Pemimpin gerakan ini sebagian berada di garis depan dan sebagian lagi berada di garis belakang untuk mengelabuhi musuh.

Siasat Perang “Roda Kereta” bisa dibayangkan sebagai pasukan yang maju untuk bertempur laksana sbuah roda yang menggelinding musuh di depannya. Musuh akan tergilas, tergiling dan hancur lebur menyisakan debu.

Bila menggunakan siasat ini dibutuhkan pasukan dalam jumlah yang besar dengan gerak yang cepat. Pemimpin pasukan ditempatkan di depan dan dibelakang agar mengetahui gerak-gerik musuh.


G. Siasat perang Garuda Nglayang

Siasat perang Garuda Nglayang ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung garuda melayang dan meniru gerakan burung garuda, dimana panglima dan pemimpin pasukan berada di paruh, kepala, sayap,dan ekor memberikan perintah kepada anak buahnya dengan siasat seperti tingkah burung garuda yang menyambar atau mematuk.

Pada intinya serangan ini mengandalkan satu senapati utama pada posisi paruh,kemudian sayap kiri kanan bergerak bebas dengan posisi pengatur posisi yang sedikit heroik, sebab perlindungan posisi pengatur pasukan berada di depan, pasukan inti menempati posisi cakar kaki, kemudian pemimpin utama berada di ekor sebagai posisi pasukan penyapu terakhir.

Siasat perang Garuda Nglayang
Siasat perang Garuda Nglayang


Siasat perangini menempatkan Senopati di depan sendiri sbg paruhnya, kemudian 2 orang berjajar / seorang Senopati di belakang paruh sbg kepala burung, kemudian Senopati Agung di belakang kepala burung. Dua orang Senopai berada di ujung sayap kanan dan kiri yang cukup jauh.

Para Prajurit mengisi sayap dan menyambung dengan tubuh burung, kepala dan ekor, dimana di ekor burung terdapat seorang Senopati lagi. Dua sayap pada Siasat perangini dimaksudkan agar dapat mengepung prajurit musuh utk dikalahkan / ditumpas.

Siasat perangperang ini pernah juga digunakan oleh pihak Pandawa pada perang Baratayudha. Arjuna sebagai patuk, Prabu Drupada berada di kepala, Prabu Kresna sekereta dengan Arjuna, Drustajumna di sayap kanan, dan Bima memimpin di sayap kiri, Setyaki sebagai ekor, dan para raja berada di tengkuk dipimpin oleh Prabu Yudistira.

Siasat Perang dalam Pewayangan


Konon Siasat peranggaruda nglayang pernah digunakan oleh panglima besar Jendral Soedirman dalam perang palagan Ambarawa

Dalam pewayangan, perang ada 3 macam :

1. Perang Gagal : Perang yang tidak berkesudahan

2. Perang Kembang : Perang yang mengembangkan lakon

3. Perang Sampak : Perang yang penghabisan dalam lakon

Dalam perang Baratayuda, pihak Pandawa dan Kurawa menggunakan Siasat Perang tertentu.

Pandawa menggunakan bentuk “Garuda Melayang” dimana di paruhnya diisi oleh seseorang sebagai pemimpin yang akan melakukan gerak-gerik muslihat perang dan menentukan arah dari pasukan secara keseluruhan. Gerak laksana burung garuda seperti menyambar, mematuk dan sebagainya dipimpin dan dipandu oleh “paruh”

Contoh formasi para petinggi Pandawa dalam Siasat Perang Garuda Melayang :

- Arjuna : patuk (satu kereta dengan Kresna)

- Prabu Drupada : kepala

- Drustajumna : sayap kanan

- Bima : sayap kiri

- Setiyaki : ekor

- Para raja : di tengkuk (melindungi Yudistira)


H. Siasat perang Gedong Minep

Gedong Minep adalah sebuah formasi yang digunakan untuk menjebak musuh yang jumlahnya lebih sedikit dengan cara memancing pasukan lawan untuk masuk kedalam gelar, kemudian pasukan lawan kalau sudah masuk ditengah, akan mereka kurung (gedong=gedung, minep=menutup)kemudian lawan akan dihancurkan.

Siasat perangini tidak efektif manakala jumlah pasukan seimbang atau lebih banyak, karena kepungan lambat laun akan jebol. Panglima dari Siasat perang Gedong Minep berada di dalam lingkaran yang tertutup rapat. Senopati berada di tengah, dikelilingi bawahan dan prajuritnya.

Sehingga bila mendapat serangan musuh maka para prajuritnya yg terkena lebih dulu. Apabila Siasat perangini bukan suatu siasat untuk menjebak musuh, maka Siasat perangini memberi gambaran bahwa Senopati / Senopati Agung tsb sebenarnya kurang memiliki keberanian.


I. Siasat Perang Wulan Tumanggal

Siasat Perang ini diibaratkan seperti bentuk bulan sabit, dimana seolah-olah wujudnya tidak membahayakan. Tetapi sesungguhnya siasat ini membahayakan karena di ujung sudut dan di tengah barisan selalu siap sedia dengan gerakan yang mudah dilakukan. Selain dari Siasat Perang yang digambarkan ini, masih ada pula siasat lain-lainnya, seperti :

Jaladri pasang, yaitu samudera yang sedang pasang airnya, dimana gerak-gerik pasukan diibaratkan air laut pasang yang mematikan.

- Emprit neba, ialah burung emprit yang datang menyerbu serentak di sawah. Oleh karena burung-burung menyerbu dalam jumlah banyak, maka rusaklah tanaman padi yang diibaratkan sebagai musuh.

Namun dalam perang, siasat “wulan tumanggal” menyimpan kejutan-kejutan. Diujung sudut dan di tengah, tanpa di duga kadang muncul mengejutkan lawan.

Disamping Siasat Perang yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat beberap lagi yang lain seperti :

- Jaladri Pasang : samudra yang sedang pasang dengan ombak yang mengamuk

- Emprit Neba : serombongan burung emprit yang menyerbu tanaman di sawah, merusak dan meluluh lantakan padi yang tengah menguning.


J. Siasat perangGelatik ( Emprit Neba)

Siasat perang Gelatik ( Emprit Neba ) adalah strategi perang dengan bentuk formasi seperti burung gelatik dalam jumlah banyak yang bersama sama turun dari udara (neba= turun dari udara dalam keadaan terbang),atau burung gelatik yg secara bersama-sama datang ke sawah utk mencari makan padi, pada umumnya melayang turun bersama-sama.

Tentu saja burung gelatik mamakan padi semaunya sendiri tanpa aturan maka rusaklah tanaman padi yang diibaratkan sebagai musuh. Siasat perangini biasanya dilakukan oleh Senopati Agung / sepasukan prajurit yg sudah putus asa, mungkin karena sudah terjepit tapi pantang menyerah.

Post a Comment for "Siasat Perang dalam Pewayangan"