Prosesi Tedak Sinten

 Upacara ini harus diselenggarakan pada pagi hari, di bagian depan dari pekarangan rumah. Adapun perlengkapan yang harus disediakan adalah ‘jadah’/’tetel’ tujuh warna yang terbuat dari beras ketan dicampur dengan parutan kelapa muda dan ditambahi garam agar rasanya gurih, berwarna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu. 

Makna yang terkandung dalam jadah ini adalah simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si kecil sejak ia lahir hingga dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran hambatan dan rintangan yang akan dihadapi si kecil dalam kehidupan.



Komposisi warna disusun dari warna gelap hingga terang yang bermakna seberat apapun masalahnya pasti ada titik terangnya. Tedak siten atau upacara turun tanah adalah suatu tradisi budaya Jawa yang dilakukan ketika si kecil pertama kali belajar jalan dan pada saat usia sekitar tujuh atau delapan bulan. 

Tujuan upacara ini agar si kecil menjadi anak yang mandiri. Tedak Siten sendiri berasal dari kata ‘tedak’ yang berarti menapakkan kaki atau langkah dan ‘siten’ yang berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Jadi arti ‘tedak siten’ adalah turun ke tanah atau ‘mudhun lemah’. 

Tradisi ini diperuntukkan bagi si kecil yang berusia 7 lapan atau 7 x 35 hari (245 hari). Jumlah hari disini dihitung berdasarkan perhitungan Jawa menurut hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. 

Saat di kecil berusia tujuh atau delapan bulan dan mulai belajar berdiri, adalah saat diadakannya ritual ‘tedak sinten’ ini sebagai wujud penghormatan terhadap siti (bumi) yang memberi banyak hal dalam kehidupan manusia. 

Selain itu upacara ini juga merupakan bentuk pengharapan orang tua pada si kecil agar ia sukses menjalani kehidupan yang penuh rintangan dengan bimbingan orang tuanya

0/Post a Review/Review