Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wisata Sejarah Candi Wringin Branjang

 Candi Wringin Branjang terletak di petak 5 kawasan Perhutani dusun Sukomulyo, desa Gadungan, kecamatan Gandusari, kabupaten Blitar. Tidak mudah menuju candi paling ujung utara di wilayah kabupaten Blitar, butuh kehati-hatian ekstra melintasi jalan terjal berpasir.



Menuju candi Wringin Brangjang kurang lebih berjarak 4 Km dari jalan utama dusun Sukomulyo menuju arah utara melintasi kawasan hutan heterogen yang di dominasi pohon pinus.

Candi Wringinbranjang dalam Sejarah

 Candi Wringin Branjang sebagai bangunan yang memiliki kaitan dengan salah satu kerajaan di Jawa Timur. Akan tetapi, dari penggalian yang dilakukan tahun 1915, diketemukan arca Dewi Sri dalam keadaan patah menjadi dua bagian. Dengan adanya arca tersebut dapat diperkirakan bahwa agama yang melatarbelakangi Candi Wringin Branjang adalah Hindu.

Candi dari batu andesit dibangun pada tahun 1231 S atau 1309 M oleh raja Raden Wijaya masa kerajaan Majapahit awal menghadap ke selatan dengan satu pintu masuk-keluar bagian selatan dengan ketinggian pintu 1,8 meter sebelum di bersihkan candi Wringin Brajang dulunya di lilit akar tanaman pohon beringin besar. 

Pertama kali candi Wringin Branjang ditemukan peneliti Belanda bernama Verbeek pada tahun 1887, kemudian diteruskan oleh peneliti Belanda lainnya bernam Knebel tahun 1908. Oleh warga sekitar sebelum di bersihkan dinamakan gua Kelelawar (Guo Lowo/= bahasa Jawa), karena tidak nampak struktur bangunan candi.

Setelah di bersihkan oleh warga nampak bangunan candi seperti yang saat ini bisa dilihat yang sempurna bentuk bangunannya, dan penamaan candi Wringin Branjang sendiri berasal dari lilitan akar pohon Beringin.

Candi Wringin Branjang yang hanya punya satu pintu masuk-keluar menghadap selatan dengan dua angin-angin berbentuk bintang pada sisi depan, samping kanan-kiri, sebelah utara candi langsung berhadapah dengan sebuah bukit yang dinamakan dengan gunung Gedang (Gedang/= sebutan buah Pisang dalam bahasa Indonesia).

Juru pelihara candi Wringin Branjang, Sumantri (36) menuturkan candi Wringin Branjang ini adalah candi Hindu, dipercaya raja Raden Wijaya membangun candi Wringin Branjang untuk melakukan pemujaan dewa lokal Sang Hyang Acalapali/= Bhatara Ipala yang bersemayam di gunung Kelud. “Bentuk candi Wringin Branjang persegi panjang dengan panjang 4,36 meter, lebar 3,65 meter dengan tinggi 3 meter,” ujar Sumantri yang sudah 13 tahun mengabdi menjadi juru pelihara candi Wringin Branjang.



Penamaan gunung Gedang sendiri menurut Sumantri awalnya dinamakan gunung Ngedangi (Ngedangi/= bahasa Indonesia menghambat/=menahan), kemudian oleh warga lebih dikenal dengan sebutan gunung Gedang. “Penamaan gunung Ngedangi adalah mencegah aliran lava pijar gunung Kelud saat meletus untuk melindungi kawasan pemukiman warga di utara Blitar dan seluruh Blitar raya. Keberadaan gunung Kelud sampai saat ini merupakan gunung berapi tipe kaldera aktif dengan ketinggian 1.731 MDPL, yang setiap waktu bisa erupsi,” katanya.

Masih menurut Sumantri keberadaan candi Wringin Branjang menurut cerita yang berkembang di masyarakat desa tempat menaruh benda-benda pusaka kerajaan Majapahit. “Itu hanya cerita, kebenarannya belum terbukti. Persebaran situs atau candi di kecamatan Gandusari, kabupaten Blitar cukup banyak, ada situs Slumbung, candi Sumberagung, candi Kotes, candi Sukowesu,” pungkas Sumantri.

Pemugaran Candi

Candi Wringin Branjang dan candi-candi di sekitarnya belum pernah mengalami pemugaran. Data menarik yang kami temui adalah: candi ini lambat laun akan menghilang, entah dicuri atau mungkin ada penyebab lainnya, karena dari keterangan masyarakat sekitar candi, banyak benda berharga yang telah pindah tangan.

Struktur Candi Wringin Branjang

Candi Wringin Branjang berdenah persegi empat dengan panjang 4 meter Lebar 3 meter sedangkan tingginya mencapai 5 meter. Arah hadap candi Wringin Branjang menghadap ke utara.

Candi Wringin Branjang memiliki keunikan tersendiri dari candi-candi lainnya; selain bentuknya menyerupai rumah, bangunan ini pun terletak di puncak Gunung Gedang

Sekitar 50 meter dari Candi Wringin Branjang ke arah utara, banyak terdapat situs candi, hampir 4 titik candi yang dapat di jumpai. Keberadaannya berdekatan dengan rumah warga. Jarak yang jauh dari kota, kemudian minimnya perhatian terhadap candi ini, menjadikan kondisi situs candi sekitar Waringin Branjan sangan memprihatinkan.

Menurut keterangan warga sekitar, masih banyak temuan-temuan candi di wilayahnya, sebuah informasi yang menarik, sebaran candi yang diperkirakan ada pada radius 5 hektar. Banyak temuan yang berharga di sekitar wilayah Candi Wringin Banjang dan tidak sedikit arca sampai benda berharga lainnya diketemukan di daerah ini.

Post a Comment for "Wisata Sejarah Candi Wringin Branjang"