Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Filosofi Bubur Candil sebagai Wujud Syukur dan Kebahagiaan

 Secara filosofi masyarakat Jawa sejak dahulunya telah meyakini akan adanya 'Kuasa' yang mengatasi segala sesuatu. Penyebutan 'Sang Kuasa' ini banyak ragam. Ada yang menyebut 'Sing Gawe Urip' ( Yang menguasai kehidupan - yang menciptakan kehidupan' ), 'Kang Moho Kuwoso' ( Yang Maha Berkuasa ), 'Sang Hyang Moho Dewo' (Sang Maha Dewa) dan masih banyak jenis penyebutan lainnya. 

Hal demikian telah ada pada masyarakat Nusantara secara khususnya masyarakat Jawa kuno jauh sebelum agam Hindu dan Buda masuk tanah Jawa. Ada sebagian peneliti yang menyebut kepercayaan asli orang Jawa ini dengan nama 'agama' KAPITAYAN. Kepercayaan dan filosofi akan adanya 'Yang Maha Kuasa' tersebut kemudian mendapat bentuknya lagi setelah adanya pengaruh agama - agama yang silih berganti masuk dan dianut oleh masyarakat Jawa.

Istilah candil sendiri merupakan bulatan-bulatan kenyal yang terbuat dari tepung ketan putih. Bubur candil ini biasanya menjadi hidangan utama saat acara selamatan waktu memulai panen. Saat memulai panen padi, panen palawija (misalnya kedele, kacang tanah) orang Jawa mengadakan selamatan sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan atas hasil pertanian yang diperoleh. Bubur ini dinikmati bersama dengan orang-orang yang bekerja memanen hasil pertanian.




Selain hal di atas bubur candil juga dihidangkan untuk calon pengantin sebelum acara pernikahan digelar. Filosofinya dengan hidangan bubur candil yang manis dan gurih ini sebagai sumber tenaga bagi calon pengantin yang sedang mempersiapkan acara pernikahan dan juga persediaan tenaga untuk prosesi berikutnya setelah menikah.

Selain itu bubur candil biasanya hadir sebagai menu utama hidangan acara tujuh bulanan kehamilan cara adat Jawa. Candil yang terbuat dari bulatan-bulatan dari tepung beras ketan, santan dan gula merah (gula Jawa).

Semua bahan yang untuk membuat bubur candil merupakan sumber energi yang tinggi. Semua itu sangat dibutuhkan wanita yang sedang hamil. Dengan mengkonsumsi bubur candil ini, yang sedang hamil tercukupi asupan makanan sumber energi untuk persiapan melahirkan

Candil adalah makanan yang terbuat dari ketan, gula merah dan santan. Makanan ini adalah makanan yang cukup populer di pulau Jawa. Di daerah lain di kenal dengan sebutan Biji Salak. Karena bentuknya yang seukuran biji salak. Makakan ini sering disajikan sebagai makanan pembuka di saat berbuka puasa.

Cara membuat bubur candil

Bahan - bahan :


A. Candil

- 200 gr tepung ketan

- 1/4 sdt garam

- Air hangat secukupnya


B. Kuah

- 200 gr gula merah (sisir)

- 3 sdm gula pasir

- 2 lembar daun pandan

- 750 ml air

- Garam secukupnya

- 2 sdm tepung maizena (larutkan dengan sedikit air)


C. Siraman

- 200 ml santan kental

- Garam secukupnya


Cara membuat :


A. Candil

1. Campurkan tepung ketan dan garam secukupnya,lalu diaduk. Uleni dengan tambahkan air hangat sedikit demi sedikit hingga adonan kalis dan bisa dibentuk.

2. Bentuk adonan menjadi bulat-bulat. Masukan bulatan ke air mendidih lalu rebus


B. Kuah

1.   Masukan gula merah,3 sendok gula pasir,2 lembar daun pandan,air dan garam secukupnya kedalam panci. Tunggu hingga semua bahan larut dan mendidih.

2. Masukkan larutan maizena dan bulatan candil yang telah matang ke dalamnya.Larutan maizena digunakan untuk mengentalkan kuah. Aduk rata hingga kuah mengental dan meletup-letup. Setelah matang, bubur candil siap disajikan.


C. Siraman

1.Siraman santan dibuat dengan mencampur santan dengan sedikit garam, supaya lebih gurih. Masak santan dengan api kecil sambil terus diaduk-aduk agar santan tidak pecah.

2. Setelah candil telah disajikan di mangkuk, siram dengan siraman santan sebelum disantap.

Post a Comment for "Filosofi Bubur Candil sebagai Wujud Syukur dan Kebahagiaan"