Akulturasi Candi Plaosan

 Candi Plaosan merupakan salah satu wujud toleransi agama Hindu dan Buddha dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno (abad 8-10 Masehi), selain Candi Borobudur, Prambanan, dan lainnya. Candi ini terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Dari Candi Prambanan yang masih berada di wilayah Yogyakarta, lokasi Candi Plaosan hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah timur. Candi Plaosan merupakan candi kembar, yakni Candi Plaosan Lor (sebelah utara) dan Candi Plaosan Kidul (sebelah selatan) yang dipisahkan oleh jalan raya serta field persawahan. ada dua candi besar yang disebut sebagai candi utama dalam kawasan Candi Plaosan Lor dan Kidul.






Keduanya merupakan bangunan kembar yang menakjubkan karena memiliki bentuk yang hampir sama. Selain itu, kedua bangunan kuno ini juga memiliki kesamaan dalam segi pahatan dengan Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Sari. Dalam setiap pahatan-pahatan yang terlihat, kerinciannya sangat diperhatikan sehingga jika dipandang ternilai sangat halus.

Kerajaan-kerajaan Bercorak Hindu Buddha di Indonesia Sejarah Candi Prambanan Peninggalan Mataram Kuno Sejarah Toleransi di Candi Plaosan Pada paruh terakhir tahun 2003, ditemukan prasasti yang disebut-sebut sebagai peninggalan sejarah abad ke-9 M, atau pada masa Kerajaan Medhang alias Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa bagian tengah.

Penemuan prasasti di dekat wilayah perbatasan antara Yogyakarta dengan Klaten (Jawa Tengah) tersebut berupa kompleks percandian, yakni di kawasan yang kini dikenal sebagai lokasi Candi Plaosan Kidul. Dikutip dari website resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, prasati ini berukuran 18,5 X 2,2 cm dengan isi bahasa Sanskerta yang bertulisan aksara Jawa kuno.

prasasti yang berada di kawasan Candi Plaosan Kidul ini menandakan masa berdirinya candi pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti yang berada di kawasan Candi Plaosan Kidul ini menandakan masa berdirinya candi pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Kuno.

Penelitian tentang Candi Plaosan juga pernah dilakukan oleh ahli asal Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis. Berdasarkan Prasasti Cri Kahulunan (842M), De Casparis menungkapkan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa Sri Kahulunan (Maharatu Pramodhawardani) dan Rakai Pikatan.







Pramodawardhani adalah putri Rakai Garung alias Samaratungga dari Dinasti Sailendra yang memeluk agama Buddha-Mahayana, sedangkan Rakai Pikatan berasal dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Syiwa. Rakai Pikatan dan Maharatu Pramodawardhani bersama-sama memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada periode 840-856 M, dan menghasilkan banyak candi-candi megah di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, termasuk Candi Plaosan.

 Perpaduan pasangan beda agama ini menciptakan kemegahan candi kembar di Plaosan yang menakjubkan, selain Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan beberapa candi lainnya. Candi Plaosan memang masih kurang populer jika dibandingkan dengan Candi Prambanan atau Borobudur.

Namun, kompleks candi yang masih sunyi ini justru menarik hingga melihat pemandangan indah di sekitarnya. Pembangunan hingga Menjadi Warisan Dunia Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, Lokasi, & Nama Raja-Raja di Jawa Perbedaan Dua Candi Kembar Plaosan Baik Candi Plaosan Lor maupun Kidul, sama-sama bertinggi 21 meter.

Tentunya, meskipun terlihat kembar dari kejauhan berkat tingginya yang sama ini, kedua candi tetap memiliki perbedaan. Candi Plaosan Lor memiliki pintu masuk di sebelah barat dan pada bagian tengah candi ada sebuah halaman yang diisi pendhapa dengan tiga altar di setiap sisinya.

Kendati Candi Plaosan Kidul sama-sama punya halaman di bagian tengah, namun candi ini ditambah dengan eight candi kecil yang mengelilinginya. Candi-candi kecil tersebut dibagi menjadi dua tingkat yang setiap tingkatnya ditaruh four candi.

0/Post a Review/Review