Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keris Pusaka Perempuan Jawa

CUNDRIK

 Ini kisah tentang cundrik. Penguasa wilayah brang wetan di Madiun, Ranggalumpena, menerjunkan Retno Dumilah, sang putri raja, untuk menjadi senopati perang menggempur pasukan Mataram.



Retno Dumilah dan prajurit wanitanya dengan bersenjatakan CUNDRIK berhasil mengobrak-abrik dan membunuh banyak pasukan lawan, hingga akhirnya putri raja itu bisa berhadap-hadapan langsung dengan Panembahan Senopati, penguasa Mataram.

Namun, satu gebrakan Panembahan membuat sang putri raja lengah hingga cundriknya terjatuh. Tidak hanya takluk, putri cantik itu pun jatuh cinta dan kemudian mjd istri Panembahan Senopati.




Cundrik adalah keris dalam ukuran kecil, panjangnya hanya sekitar 10 sampai 15 cm. Selebihnya, cundrik persis dengan keris, mulai dapur, pamor, dan motifnya. Senjata ini merupakan salah satu dapur keris lurus berukuran kecil sekitar sejengkal bilahnya.

Umumnya agak tebal dan membungkuk, gandik terletak dibelakang berukuran panjang dan terdapat kruwingan yang jelas dan tegas, sepintas seperti keris Cengkrong.  Namun ada juga cundrik luk, biasanya paling banyak berjumlah lima atau biasa dikenal dengan luk pandawa.

Pada zaman dahulu, cundrik yang kecil dan pendek itu biasa digunakan oleh para resi perempuan, termasuk permaisuri dan selir, sebagai piandel atau kekuatan diri. Para perempuan tersebut perlu memiliki senjata itu karena ukurannya yang relatif lebih kecil, sehingga mudah disembunyikan. 

Cundrik juga biasa dipakai sebagai pelengkap busana. Perempuan, termasuk putri raja, biasanya menggunakan cundrik sebagai pengikat gelung rambutnya. Dalam kondisi terdesak, mereka baru akan menggunakan cundri sebagai senjata untuk membela diri.

PATREM

 Kisah yang melegenda berkaitan dengan patrem ini adalah saat Dyah Pitaloka memilih menghujamkan PATREM di tangannya ke dada, dari pada menuruti ajakan Patih Gajah Mada, diboyong ke Majapahit. Pitaloka merasa terhina, ketika ritual pinangan yang dijanjikan Raja Hayamwuruk, dibelokkan Gajah Mada menjadi aksi penaklukan.

Patrem adalah keris kecil dengan ukuran 15-25 cm.  Pendapat lain megatakan semua keris di bawah 30 cm juga disebut patrem.  Dikarenakan patrem adalah keris maka patrem sama persis memiliki dapur, pamor, dan motifnya layaknya keris pada umumnya baik  Dapur lurus maupun dapur luk.






Berbeda dengan cundrik, patrem bukanlah senjata khusus wanita. Sebab senjata ini juga sering dibawa kaum pria. Meskipun demikian patrem lebih banyak digunakan oleh para wanita. Pada zaman dulu, patrem digunakan sebagai senjata andalan yang biasa diselipkan di depan sekitar sabuk yang melingkari perut.

Post a Comment for "Keris Pusaka Perempuan Jawa"