Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Cinta Prabu Nala dan Dewi Damayanti

 Diceritakan di negeri Nisada (Paranggelung), raja muda dan tampan, gagah perkasa yang bertakhta di sana yakni Prabu Nala, putra Prabu Wirasena. Prabu Nala memerintah Nisada dengan adil dan makmur. Orangnya bijaksana, saleh, dan alim namun ia punya hobi aneh bermain kuclak (dadu) namun selalu kalah.

Prabu Nala dan dewi damayanti


Sungguh sangat bertolak belakang dengan sifat-sifat alimnya. Sang raja muda itu belum beristri. Suatu ketika, seekor angsa emas datang dari kahyangan membawakan sebuah lontar. Angsa emas itu hendak ditangkap namum si angsa bercakap bahwa ia membawakan sesuatu dari kahyangan.

Prabu Nala membuka lontar itu dan terlihatlah lukisan seorang yang cantik jelita. Ia pun bertanya "siapakah wanita cantik ini? Aku sungguh mencintainya."  Angsa emas mengatakan bahawa orang di lukisan itu adalah putri kerajaan Widarba. Sang prabu jatuh cinta dan ia pun mulai menulis syair dan berseloka lalu dikirimkanlah ke Widarba.

Sementara itu di negeri Widarba, Prabu Bimawira sedang kelimpungan karena sang putri yakni Dewi Damayanti belum juga mau menikah. Maka disebarkanlah undangan sayembara ke negeri-negeri tetangga.

Dewi Damayanti sebenarnya belum menikah karena terpesona dengan seloka-seloka dan syair puisi yang dikirimkan oleh Prabu Nala melalui angsa emas. Mendekati hari sayembara, Prabu Nala dan Dewi Damayanti bertemu diam-diam di hutan lalu mengungkapkan perasaan masing-masing.

Lalu datang empat dewa, yakni Batara Indra, Yama, Bayu dan Baruna. Mereka juga mengungkapkan cinta mereka kepada Dewi Damayanti. Sang putri jadi bingung mana yang harus dipilih. Sang prabu Nala dan para dewa lalu pulang dan membiarkannya berpikir dulu.

Hari sayembara pun tiba, satu persatu pun berjajar untuk dipilih Dewi Damayanti. Lalu ada keanehan, giliran Prabu Nala dipanggil, maka ada lima orang Prabu Nala datang ke hadapan Dewi Damayanti. Semakin bimbanglah puteri Widarba itu. Ia pun berdoa agar bisa membedakan mana Prabu Nala yang asli.

Sanghyang Widhi memberi petunjuk. Singkat cerita, Dewi Damayanti memilih dan mengalungkan puspamala kepada Prabu Nala yang di ujung kanan. Lalu empat prabu Nala lainnya kembali ke wujud asal mereka yakni sebagai Batara Indra, Yama, Bayu dan Baruna. Itu semua adalah ujian kesetian untuk Nala dan Damayanti.

Dewi Damayanti


Para dewa pun memberkati mereka dengan berbagai anugerah. Tetamu dan para peserta yang gagal memberikan selamat. Pernikahan pun digelar dengan meriah. Beberapa tahun setelah itu, Prabu Nala dan Dewi Damayanti dikaruniai dua orang putra-putri, Endrasena dan Endrasini..

Batara Kala dan Batara Dwapara yang dulu terlambat datang saat sayembara tak terima dengan itu semua. Maka mereka berdua bersiasat agar Prabu Nala dan Dewi Damayanti mendapatkan sengsara. Setelah sekian lama, Prabu Nala hendak masuk kamar ibadah namun ia lupa untuk bersuci dengan membasuh kakinya.

Batara Kala lalu merasuki tubuh sang prabu dan bisa memengaruhi pikiran Prabu Nala yang saat itu sedang khusyuk berdoa untuk berjudi lagi. Sementara itu Batara Dwapara masuk ke dalam tubuh Raden Puskara, adik Prabu Nala yang terkenal sangat doyan berjudi dan juga ke dalam papan kuclak.

Dengan demikian, ia akan membuat sang prabu selalu kalah bermain kuclak. Singkat cerita, adik sang prabu ingin mengajak kakaknya itu main kuclak. Sang prabu mau-mau saja. Awalnya permainan hanya untuk senang-senang saja namun lama-kelamaan berubah menjadi taruhan dan judi.

Prabu Nala terus mengalami kekalahan yang sangat teruk. Mula-mula harta Prabu Nala yang habis, lalu ternaknya, penggawanya, hamba sahaya, prajuritnya, keratonnya, kerajaan Nisada, lalu dirinya sendiri terenggut kemerdekaannya.

Dewi Damayanti berusaha memperingatkan suaminya namun sang suami tak acuh bahkan seperti orang kerasukan setan. Nasehatnya tak digubris malah dia semakin gila judi. Para penggawa, prajurit dan hamba sahaya juga lelah mengingatkan sang prabu yang nyaris hilang kewarasan itu. 

 Karena sang dewi dapat firasat tak baik, Damayanti segera memanggil kusirnya, Wrihatsena. Damayanti meminta Wrihatsena untuk mengungsikan Endrasena dan Endrasini ke Widarba. Setelah itu, Wrihatsena mengabdi kepada keturunan Sri Rama yakni Prabu Rituparna di Ayodya. Firasat Dewi Damayanti terjadi.

Prabu Nala kalah saat mempertaruhkan takhtanya sendiri. Raden Puskara semakin kesetanan dan meminta agar Dewi Damayanti dipertaruhkan. Prabu Nala tidak mau dan tidak sudi istrinya dijadikan barang taruhan. Karena tidak mau, Raden Puskara mengusir Prabu Nala dan Dewi Damayanti dari keraton. Puskara menjadi raja baru Nisada.

Prabu Nala dan Dewi Damayanti hidup terlunta-lunta di hutan. Miskin, hina, dan papa. Harta mereka satu-satunya hanya selembar kain kemben dan baju lusuh lagi kumal yang dipakai di badan. Batara Kala membisiki Prabu Nala agar meninggalkan Dewi Damayanti.

Prabu Nala lalu meninggalkan sang isteri dengan harapan sang isteri bisa dinikahi orang lain. Singkat cerita, Dewi Damayanti semakin sedih karena suaminya meninggalkannya sendirian. Dewi Damayanti lalu pergi mengembara mencari suaminya hingga ke negeri Cedhinagari.

Di sana, ia ditemukan oleh sahabatnya, Dyah Sunanda, putri raja Subahu dalam tengah berjalan kepayahan dan lemah di hutan kerajaan. Keadaannya menyedihkan. Rambut kusut masai dan berantakan, badan kurus kering, mata kuyu dan sayu, wajahnya yang cantik kini tak bercahaya. Dyah Sunanda membawanya ke keraton.

Prabu Bimawira mendapat kabar putrinya ada di Cedhinagari meminta bantuan Rsi Sudewa. Singkat kata, Dewi Damayanti bisa diajak pulang ke Widarba. Sebagai balasan, Rsi Sudewa diberikan seratus ekor lembu sapi dan tanah seluas 1 yojana untuk pertapaan.

Sementara itu, Prabu Nala menyesali perbuatannya dan berjalan luntang-lantung tak tentu arah. Lalu ia melihat ada ular naga sedang kesusahan hampir terbakar kerna kebakaran hutan. Naga itu bernama Karkotaka, dia merupakan raja ular yang dikutuk Betara Narada sehingga tidak bisa meninggalkan tempat tersebut.

Berkat anugerah yang diberikan keempat dewa, ia mengubah diri menjadi kecil lalu mengeluarkan naga itu. Naga Karkotaka berterima kasih. Lalu sebagai balasan, sang naga menggigit dan menyemburkan bisa ke wajah Prabu Nala. Wajah Prabu Nala pun rusak melepuh dan kulit tubuhnya pun ikut bopeng-bopeng.

Karena efek racun itu pula, Batara Kala keluar dari tubuh Prabu Nala. Pikiran Prabu Nala kembali jernih lalu sang naga memberikan saran agar Prabu Nala menjadi hamba sahaya di Ayodya dan mengganti namanya. Di sana, ia belajar ilmu bermain kuclak kepada Prabu Rituparna.

Berdasar petuah, usai menguasai ilmu bermain kuclak, dirinya akan mendapatkan kembali kekayaan dan kejayaannya lagi. Untuk mengubah wajahnya, sang naga Karkotaka memberikan jubah dewa. Segera setelah memakai jubah itu, wajahnya akan tampan kembali.

Kerajaan Widarba kembali membuat sayembara bersyair dan berseloka. Barangsiapa yang mau membalas seloka dari Dewi Damayanti, akan dinikahkan dengannya. Menurut laporan dari Rsi Parnada dan Sudewa, di seluruh penjuru dunia semua brahmana sudah menyanyikan seloka dan syair buatan sang dewi, tetapi tidak satupun yang menanggapi nyanyian tersebut kecuali kusir di Kerajaan Ayodya yang bernama Bahuka. 

Diutuslah Rsi Sudewa ke Ayodya untuk memberi kabar kepada Prabu Rituparna bahwa Dewi Damayanti meminta agar Bahuka datang ke Widarba dalam tempoh esok hari. Sekiranya kalau Prabu Rituparna mempunyai kusir yang handal pasti dia dapat sampai ke Kerajaan Widarba pada waktu yang ditentukan.

 Di dalam hati, Dewi Damayanti berkata bahwa hanya suaminya saja yang dapat mengendarai kuda dengan sangat mahir. Oleh karena itu, ia membuat siasat berpura-pura mengadakan sayembara seloka dan syair lalu menyuruhnya datang ke Widarba dengan waktu yang mendesak.

Mendengar pemberitahuan dari Rsi Sudewa, Prabu Rituparna segera mengutus Bahuka untuk menyiapkan kuda. Agar dirinya bisa sampai di Widarba hari itu juga. Singkat cerita, kereta sang prabu Ayodya itu melesat sekencang angin begitu dikusiri Bahuka.

Sebelum matahari akan terbenam, Prabu Rituparna telah sampai di Widarba. Pabu Bimawira kaget bukan kepalang denga kedatangan sang prabu Ayodya itu yang sangat kilat. 

Dewi Damayanti memanggil Dayang yang bernama Keçini. Dewi Damayanti menyuruh Keçini untuk bertanya dengan sopan tentang kusir Prabu Rituparna yang bernama Bahuka, serta menyanyikan seloka miliknya. Sedangkan Dewi Damayanti akan mengamatinya dari kejauhan.

Prabu Nala


Setelah bertemu dengan Bahuka, Keçini pun melakukan semua perintah Dewi Damayanti. Prabu Nala yang menyamar menjadi Bahuka sangat miris hatinya. Setelah dia mendengar nyanyian seloka itu, Bahuka pun juga menjawabnya dengan seloka nyanyian yang dulu pernah ia sampaikan kepada Rsi Pranada.

Dihadapan Dewi Damayanti, Kesini menceritakan semua yang dia perbincangkan dengan Bahuka. Dewi Damayanti semakin yakin bahwa Bahuka merupakan samaran dari suaminya. Kemudian Dewi Damayanti menyuruh Kesini untuk mencatat segala tingkah laku Bahuka. 

Semuanya sesuai dengan kebiasaan dan gerak-gerik Prabu Nala. Lalu ketika Endrasena dan Endrasini dipertemukan dengan Bahuka, Bahuka sangat kegirangan dan terharu. Bahkan memeluk dua anak itu.

Bahuka dan Damayanti pun dipertemukan. Mereka mengungkapkan isi hati mereka. Bahika lalu memakai jubah dewa dan seketika, wajah Bahuka yang buruk dan tubuh bopengnya hilang berganti wajah Prabu Nala yang tampan dan berkulit bersih. Mereka pun berpelukan haru serta saling meminta maaf dan berbincang seperti sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa. 

Setelah sebulan di Kerajaan Widarba, Prabu Nala mengutarakan niatnya ingin merebut kerajaannya kembali. Prabu Nala yakin dengan kemampuannya bermain kuclak dan bisa merebut kembali Kerajaan Nisada. Singkat cerita, prabu Puskara dan Prabu Nala bermain kuclak dengan taruhannya Dewi Damayanti.

Prabu Nala terus menang dengan telak. Berkat ilmu dari Prabu Rituparna, berbagai macam tipu hela Prabu Puskara dapat diketahui Prabu Nala. Akhirnya kemenangan di pihak Prabu Nala tak terelakkan bahkan nyawa Puskara pun ditangan Prabu Nala. Akan tetapi karena kebijakan hatinya, Puskara pun dilepaskan. 

Tidak hanya itu, kerajaan dan pasukannya pun dikembalikan. Prabu Nala memeluk Puskara dan berkata bahwa mereka masih saudara kandung.

Post a Comment for "Kisah Cinta Prabu Nala dan Dewi Damayanti"